Jumat, 17 Desember 2010

MISTERI DIBALIK KATA BIJAK

Tanya: Mengapa manusia diciptakan untuk membuat kesalahan?

Jawab: Untuk mereka belajar.

Tanya: Mengapa mereka perlu belajar dari kesalahan?

Jawab: Untuk dapat melakukan sesuatu yang benar.

Tanya: Mengapa perlu melakukan sesuatu yang benar?

Jawab: Untuk tidak dapat melakukan sebuah kesalahan.

Tanya: Jadi mengapa manusia diciptakan untuk membuat kesalahan??
Kalau harus belajar dari kesalahan terus menerus kapan benarnya?


Ketika anda mendengar seseorang berkata:
1. tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan karena itu yang membuat kita belajar akan kebenaran;
jadi apabila kita melakukan kebenaran apakah itu berarti kita belajar untuk melakukan kesalahan?
Ah! Memang bisa-bisanya saja orang-orang berbicara seperti itu.
Benar ya benar, salah ya salah. Kenapa jadi dipersulit sok-sokan berfilosofi berlagak jenius?
Membenarkan pernyataan yang jelas-jelas salah itu saja sudah melakukan suatu kesalahan. Dimana letak kejeniusannya?
Lagipula jika diimbangi dengan pernyataan:
2. belajar dari kesalahan agar tidak melakukan kesalahan yang sama;
itu sama saja melakukan dua kali kesalahan.
Bukannya sudah dibilang tadi bahwa dengan membenarkan pernyataan pertama saja sudah melakukan sebuah kesalahan, jika ditambah dengan membenarkan pernyataan kedua, dua kesalahan sudah dilakukan.
Jenius? Pikir lagi. Jangan sampai anda membuat kesalahan ketiga kalinya dengan membenarkan bahwa pemikiran-pemikiran tersebut adalah jenius.

Pada kenyataannya yang dicari adalah pembenaran diri, pembenaran diri untuk mendukung bahwa ia melakukan kesalahan dengan benar karena ada sisi pembelajarannya. Daripada membenarkan tindakan yang jelas-jelas merupakan kesalahan, bukankah lebih baik menyalahkan tindakan yang jelas-jelas merupakan kebenaran? Seperti yang sedang saya lakukan.

Rumit bukan? Itulah hidup.

Kamis, 02 Desember 2010

BAB I: PENDAHULUAN

Katakan dengan lantang bahwa yang terpenting itu hanya satu. saya, saya, dan saya.
ego menyerbu saya ingin kau berseru; sekali lagi saya, saya, dan saya!
Mengapa kau tak juga paham? Semua yang dulu-dulu hanyalah alasan.
Insting ini geram, maka inilah yang disebut picisan.

Saya, saya, dan saya. Harus dimuntahkan berapa kali?
Ini semua tentang saya, saya, dan saya.
Ulangi lagi? Saya, saya, dan saya.

Maka yang dapat diperbuat untuk menyadarkan kau.
Picisan ini, sebelum terlambat.
Untuk kau pahami.
Bahwa mata kau dibutakan selama ini, hilang arah haus darah.
Sebenarnya yang dicari itu, yang kau elu-elukan itu adalah:
saya, saya, dan SAYA! HIDUP SAYA!

Minggu, 07 November 2010

gaya revolusi bumi

tidak bisa begini terus

terus menerus diinjak-injak

diinjak-injak kemudian pasrah

pasrah dalam menanggapi kelakuan

kelakuan yang merugikan

merugikan bagi saya pasti

pasti nanti mereda kembali

kembali ke tabiat kasar lagi

lagi-lagi disakiti seperti ini

ini akan terus saya lakukan? Tidak!

Tidak bisa begini terus.

Minggu, 24 Oktober 2010

BUMI SATU UNTUK SEMUA; SEMUA UNTUK SATU BUMI

Terduduk disini merenung.

Siapakah aku disini? Berani memandang rendah paras bumi.

Ketika aku, kamu, kita, mereka; bersama hidup di bui alam. Siapakah semua disini?

Ketika matahari, bulan, bintang, tabir; memancar untuk kedalaman. Untuk siapa semua disini?

Jika hutan tak lagi teduh, lautan tak lagi bernaung, surya tak lagi bersahabat; untuk apa mereka disini?

Jika hewan tak lagi berseru, flora tak lagi menyatu; alam pun akan layu. Jadi apakah kita disini?

Sehingga aku, kamu, kita, mereka; harus membantu. Semua harus kembali berpadu.

Aku, kamu, kita, mereka. Alam. Dunia. Bersatu.

Senin, 13 September 2010

Selasa, 24 Agustus 2010

KAMFRET

Mengharapkan imbalan atas kesalahan? Sialan.

Dikira saya bodoh, heh jangan bikin heboh.

Ingin jodoh?

Kenapa sekarang berbeda pandangan? Basian.

Bukannya mau mencemooh, tapi saya capek tergopoh-gopoh.

Coba ingat perkataan:

Kamu pikir saya lawan? Katanya kawan.

Disini saya yang korban. Gembelengan!

Minggu, 22 Agustus 2010

SEPATAH, DUA PATAH, TIGA KATA-KATA PATAH

"Wahai orang-orang yang sedang mencoba beriman, sesungguhnya apa yang sedang kalian kerjakan untuk dunia akhirat hanya akan membuat kalian sekarat.

Untuk apa berbuat baik jika ingin timbal balik?

Bukankah semua agama mengajarkan kita untuk ikhlas dalam beraktivitas?

Bukankah semua hal harus didasari niat benar dan tidak ada sekalipun intensitas untuk berlaku tidak wajar?

Jika memang selama ini yang kalian lakukan semata-mata hanya untuk masuk surga, apa bedanya dengan berbuat dosa?

Pada akhirnya hanya tempat kan yang diperebutkan? Bedanya surga pakai kipas angin, sementara neraka panas dingin.

Namun seiring berjalannya waktu; di akhir; semua kalian pasti akan menyatu.

Jadi untuk apa berlomba-lomba untuk masuk surga? Semestinya kalian berlomba-lomba untuk mendamaikan dunia.

Maka mulailah kalian untuk menyadari bahwa dunialah yang tak bisa kalian hindari. Selanjutnya jalankan misi pembenaran diri, lalu kemudian lakukan semua benar-benar dari hati.

Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh lah yang akan ampuh melawan rapuh dunia dan akhirat. Bukan untuk imbalan, bukan juga untuk bernasib sialan, tetapi ini semua untuk masing-masing kalian."

PLAGIARISME

Akal buntu.........................................................

Otak tumpul......................................................

Ide null..............................................................

Salah siapa?

Saya yang menjiplak?

Atau kamu yang tidak bijak?

Tertangkap sudah.

Kenapa? Memangnya saya tidak bisa diasah?

Ini bukan kelakuan orang pasrah, tapi nasib sudah kepalang basah.

Lain waktu, jika lagi buntu, dan tak ada yang bisa membantu,

saya akan teriak "MATI KUTU."

Rabu, 18 Agustus 2010

SAMBAL PEDAS

Katanya nasionalis, tapi pakaian masih necis, kelakuan hedonis, termakan westernisasi. Situ kira eksis? Pakai otak kritis!

INDONESIA KITA

Nasionalis?

Sosialis?

Komunis?

Sebut saja negara borjuis.

HARI INI

Kosong melompong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Plong.

MARI BERPANTUN

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kesepian.

Sambil menyelam minum air,

sampai di darat ingin buang air.

Malu bertanya sesat di jalan,

apa daya nasib sialan.

Bagai air di daun talas,

saya mahir setan alas!

Selasa, 17 Agustus 2010

Nostalgia

Pikiran menerawang, kembali ke masa perang.

Penjajah, dijajah, terjajah.

Dada busung,

melangkah gagah.

Pasung.

Marah.

Parang.

Darah.

Pisang?

Gajah?

Ah sudahlah.

Yang penting saya girang.

BISIKAN KAUM MU

Sahabatku, dengarlah keluh kesah ku.

Disini duka, disini pun ku terluka.


Sahabatku, dengarkanlah rintihanku.

Kuharap kau jauh, agar lara ini tak pengaruh.


Sahabatku, genggamlah tanganku,

gapailah jemariku, hanya kau harapanku.

Sahabatku, peluklah diriku,

isyaratkan, hanya perhatian yang aku butuhkan.


Airmata ini, batinku ini,

luluh lantak, lelah tak kuasa.

Kepalaku ini, hatiku ini,

doaku tak berubah, namun apa yang kujamah?


Pagi terbit, ku bertekad.

Malam tiba, aku pun goyah.

Sudah, aku patah...


Jadi sahabatku, tolonglah aku!

MERDEKA?!

Pagi hari, 17 Agustus 1945.


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjataka
n kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasa
an d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tah
oen 05
Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta



65 tahun yang lalu.

Hari ini dini hari, 17 Agustus 2010.


Merdeka Indonesia? Tergantung apa yang kita junjung.





Sosialisme bung karno kah?




Ajaran sejarah peradaban dahulu kah?




Atau simbol garuda yang entah mengarah kemana?



Yang jelas saya sebagai warga negara Indonesia, yang mempunyai rasa nasionalis yang sangat minim, namun seiring bertambahnya umur mencoba belajar mengapresiasi bangsa diri.

Maka ini saya dedikasikan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Berantakan atau tidak saya tetap warga negara anda. Selamat!

Merdeka menurut kalian belum tentu merdeka menurut saya. Jadi apakah Indonesia benar-benar telah merdeka? Mari saatnya kita buktikan. Beraksi ke arah yang benar, lalu kita tahu bahwa Indonesia tidak akan pudar! MERDEKA?!

ABSTRAKSI JIWA

Kering belah.

Pecah kerontang.

Luluh tulang.

Banting lantak.


Hancur dunia.

Berantakan sudah.


Aku pun begitu.

Siapapun tak membantu.


Lidah busung.

dada kelu.

Maju pantang.

Mundur gentar.


Terperosok jurang raga

terpental nyali jiwa


kini sirna sudah

aku dan dunia.

LUAPAN API

Depan ringan hati, lalu belakang main hati.

Tumpah darah mau mati?

Merdekakan dulu jati diri, baru anggap suci!

Dengar saya, hormati saya, kemudian jaya.

PERKENALAN

tes tes ehm,

salam.

apa? siapa? kapan? dimana? mengapa? bagaimana?

semua catatan dari perasaan. saya, sebagai bahan. disini. ingin membenarkan diri. menulis.

jati diri?

tak perlu basa basi, nanti juga terisi.

bingung?

saya pun juga.

mari, silahkan dirasakan.